Minuman teh sejauh ini masih merupakan minuman penyegar terpopuler di dunia. Namun di dalam kubu minuman teh sendiri seolah muncul semacam persaingan “rebutan popularitas” antara teh hitam dan teh hijau. Teh hitam masih mendominasi volume penjualan, namun analisis pasar Zenith International Ltd memprediksi kemungkinan teh hijau akan mengambil alih posisi terdepan pada tahun 2010 (Sinar Tani, 3-9 Okt. 2007).
Apakah ramalan tersebut akan terjadi masih akan kita lihat dalam kenyataan pasar. Popularitas teh sebagai salah satu minuman fungsional melaju dengan semakin maraknya pembuktian ilmiah internasional tentang kemampuan dan keunggulan antioksidan yang terkandung, utamanya katekin.
Kandungan katekin dalam teh hijau (sekitar 11,5% berat kering) lebih tinggi dibanding teh hitam (sekitar 8% berat kering). Sehingga dalam masa kebangkitan global makanan dan minuman fungsional global masa kini posisi teh hijau lebih bagus.
Lalu apakah minuman teh hitam memang lebih rendah (inferior) dibanding teh hijau dan teh hijau akan mengambil alih dominasi? Kelihatannya tidak sesederhana dan semudah itu. Faktor selera konsumen atas rasa, aroma dan harga teh hitam yang lebih menarik tidak bisa dianggap remeh.
Selain itu, belakangan ini muncul hasil-hasil penelitian terbaru yang antioksidan yang menyamakan potensi atau bahkan mengunggulkan antioksidan teh hitam dibanding teh hijau. Sehingga Dewan Teh Inggeris membuat pernyataan bahwa meskipun kandungan katekin dalam teh hijau lebih tinggi dibanding teh hitam, aktivitas antioksidan keduanya dinilai setara. Di antara alasannya ialah bahwa theaflavin dan thearubigen yang ada pada teh hitam merupakan antioksidan yang potensial (APFI, Mei 2009).
Theaflavin dan thearubigen pada teh hitam adalah bentuk sederhana flavonoid dari hasil oksidasi katekin yang terjadi oleh oksidasi enzimatis pada proses fermentasi teh hitam (yang tidak dialami oleh teh hijau).
Sumber:
http://www.sinartani.com/iptek/teh-hitam-minuman-bermutu-tinggi-1269249013.htm